Cita-citaku | Part 1

Maret 12, 2013


Halo! Bagi yang belum tau, nama gue Yoga. Jenis kelamin gue ... Sepertinya laki - laki. Hobi gue baca buku sambil handstand. Cita - cita gue ... Entahlah.


Dari kecil gue udah mulai merajut cita - cita. Dulu, gue bercita  - cita ingin jadi seorang pembalap. Sebelum jadi pembalap, maka gue coba untuk mengenal dunia permobilan terlebih dahulu. Tamiya. Yap, waktu SD gue main tamiya untuk mengenal dunia permobilan. Gue bener - bener mendalami dunia pertamiyaan. Saking dalamnya, gue gak tau gimana cara nyalain tamiya.

Setelah kurang lebih 6 bulan tamiya gue ngebangke, akhirnya gue tahu kalau ternyata tombol on offnya ada di bawah mobil. Gue coba nyalain dan ... Yuuuhhuuu!!! Tamiya gue maju men!

Gue jadi demen banget ama tamiya. Sampai akhirnya gue berniat ngaduin tamiya gue sama tamiya temen sebangku gue.

Gue : " Eh, kita adu tamiya yu! "
Temen gue : " Ayo! Tapi ... Aku gak punya tracknya. "
Gue : " Ya udahlah biarin. "

Karena kita gak punya tracknya, akhirnya kita ngadu tamiya di jalan raya beneran.

Gue : " Tamiya siapa yang duluan sampe di seberang jalan, itu yang menang ... OK!? "
Temen gue : " OK ... Satu ... Dua ... Tiga!!!  "

Ngeengg ... Tamiya kita pun melesat dengan cepat menyebrang jalan raya ...

Lalu kelindes truk.

Gue dan temen gue langsung nangis ditempat.

Gue : " Gara - gara kamu sih "
Temen gue : " Bukan, gara - gara kamu.. Kan kamu yang ngajak.."
Gue : " Kamu dong.. "
Temen gue : " Kamu! "
Gue : " Kamu! "

Lalu akhirnya kita berdua pulang ke rumah masing - masing dengan saling menyimpan dendam. Setelah insiden itu gue mengurungkan niat gue menjadi seorang pembalap.

Setelah itu gue mulai meniti karir sebagai seorang pesulap. Gue beli buku - buku sulap di toko buku. Lalu gue pelajari. Setelah menguasai, gue mulai menunjukkan kemampuan gue main sulap.

Panggung pertama, di rumah gue sendiri. Penontonnya banyak banget, sekitar 2 orang lah. Waktu itu gue mau atraksi sulap kartu remi. Jadi intinya penonton bakal ngambil satu kartu acak waktu mata gue lagi ditutup. Terus gue bakal nebak kartu apa yang mereka ambil itu.

Gue : " Coba kocok dulu tumpukan kartunya, terus ambil satu kartu bebas yang mana aja. Udah? "
Adek Gue : " Udah. "
Gue : " Hmmm ... Itu pasti As keriting. "
Adek gue : " Bukan, ini 5 diamon. "

Sialan.

Gue : " Ya udah, ulang lagi. Kocok lagi tumpukan kartunya, terus ambil satu kartu yang mana aja. Udah? "
Adek Gue : " Udah "
Gue : " Hmmm ... Itu pasti 5 diamon. "
Adek gue : " Bukan, ini As keriting. "

-_-"

Adek gue : " Mau diulang lagi gak Mas? "
Gue : " Aduh, mas mendadak laper nih, pengen tidur. Udahan aja ya. "

Panggung kedua, di sekolah. Kebeneran gue lagi pengen nyari perhatian ke cewek - cewek di SD gue. Untuk kali ini gue menghindari sulap kartu remi biar gak gagal lagi. Gue malah mencoba sulap menerbangkan benda, waktu itu gue menerbangkan korek api.

Gue : " Ini korek api biasa kan? " *sambil nunjukin ke temen - temen*
Temen - temen gue : " Iya ... "
Gue : " Nah, dengan konsentrasi, aku bisa nerbangin korek ini. "

Terus gue pura - pura ngumpulin energi dan konsentrasi. Terus gue terbangin korek api itu dengan trik yang ada di buku sulap. Temen - temen gue pada tepuk tangan, gue bahagia. Tiba - tiba salah satu temen gue nyeletuk,

" Kok itu ada benangnya sih? "

Kampret.

Dari situ gue kapok jadi pesulap. Gue mulai melirik karir lain, jadi penulis. Gue menulis sebuah buku bergenre horor. Buku itu ceritanya bagus. Saking bagusnya, gak ada orang yang mau baca. Akhirnya gue bakar buku itu bersamaan dengan foto - foto mantannya emak gue.

Terus gue mulai melirik karir menjadi seorang pemain bola. Gue begitu ambisius bisa masuk timnas Indonesia dan berhasil mengalahkan MU atau Arsenal. Gue belajar main bola dengan sangat keras. Untuk menjadi seorang pemain bola profesional, maka gue harus banyak berlatih di medan - medan yang nggak biasa. Cukup banyak medan ekstrem yang gue jadiin tempat latihan sepak bola :

  • Lapangan yang rumputnya tinggi - tinggi
  • Lapangan berlumpur
  • Lapangan berpasir
  • Lapangan tembak

Hingga pada suatu hari orangtua gue marah - marah,

Emak Gue : " Kalo kamu jadi pemain bola, nanti kamu mau makan apa? "
Gue : " Ya makan nasi lah, masa makan kartu ATM "
Emak Gue : " Ya tapi kan jadi pemain bola itu gajinya gak tentu. "
Gue : " Kata siapa? Itu kan banyak orang yang terkenal gara - gara jago main bola ... "
Emak Gue : " Siapa? "
Gue : " Adie M.S "

Karena kedua orangtua gue gak setuju, akhirnya gue berenti bercita-cita jadi pemain bola.

You Might Also Like

0 komentar

Baca Tulisan Lainnya

7 Tips Mudik ala Gue, nomor 6 pasti ga kepikiran

sedih amat mas Mudik adalah pulang kampung. Iya, nenek nenek tukang main futsal juga tau. Tapi bukan itu yang mau gue angkat di tulisan...

Like me on Facebook