MUSEUM

Juli 31, 2015


“Oke, para peserta kuliah Perancangan 1, jadi tugas kalian adalah merancang museum. Inget, museum itu beda sama jamban umum. Intinya, silakan kalian browsing supaya kalian dapet pencerahan desain.”
Kuliah berakhir, gue keluar ruangan dengan perasaan resah. Ya, gue sekarang ditantang dosen gue buat ngedesain museum. Sialnya, gue gak pernah ke museum. Sebenernya pernah sih sekali. Tapi itu dulu, jaman robocop masih doyan main congklak.
 Catatan Remuk - Sayoga R. Prasetyo


Setibanya di rumah, gue langsung browsing tentang museum. Oh, ternyata museum itu adalah tempat nyimpen barang-barang tua. Contoh: kipas bekas, mobil bekas, baju bekas, dll. Dan gue juga dapet info bahwa ternyata, museum itu dibangun oleh kuli bangunan.

Meskipun udah dapet info yang cukup, tapi keknya bakal lebih baik kalo gue minta tolong sama temen gue yang lebih ahli.

Gue: “Sat, aku ada tugas kampus,disuruh ngedesain museum. Kamu mau bantuin aku ga?”

Satria: “Gak bisa,Yog.”

Gue: “Kenapa?”

Satria: “Kita kan kuliahnya beda jurusan. Kamu kuliah jurusan arsitektur, aku kuliah jurusan tata boga. Kita beda Yog ....”

Gue: “Oh gitu ... aku pikir arsitektur sama tata boga sama aja.”

Gue pasrah. Ga ada temen gue yang bisa bantuin gue. Gue langsung menyendiri di rumah. Gimana ini? Gue dapet tugas tentang suatu bangunan yang gak pernah gue datengin. Gue mikir keras sambil duduk di sofa.

Hmm ... museum itu rata-rata punya ciri khas. Misalnya, museum khusus dinosaurus, museum kemerdekaan, museum uang, dan lain-lain. Gue harus pikirin keunikan apa yang bakal gue angkat di museum gue.

6 jam berlalu.

Akhirnya gue dapet ide!

Gue dapet ide buat bikin museum terunik di dunia, yaitu museum ... selotip. Museum ini bakal berisi pajangan berupa berbagai jenis selotip. Mulai dari yang mini sampai yang jumbo, mulai dari yang hitam sampai yang transparan, mulai dari yang empuk sampai yang kriuk-kriuk, semua jenis selotip ada di sini.

Desain museumnya juga unik. Kalo museum biasa umumnya ukurannya luas, bisa sampe 100 x 100 meter. Nah, kalo museum gue ukurannya 3x4 meter. Semua selotip digantung di dinding. Dan untuk memanfaatkan ruangan, maka gue isi sisi ruangan yang kosong dengan etalase berisi kertas-kertas, dan di sudut ruangan bakal gue taruh mesin fotokopi.

Gue yakin, ini bakal jadi desain museum paling unik yang pernah ada.

Keesokan harinya gue dateng ke kampus buat nyetor desain museum pertama ke dosen. Gue yakin, desain museum gue bakal dipuji-puji dan bakal dapet predikat sebagai desain museum terbaik sepanjang sejarah manusia.

Dosen Gue: “Ini museum apa?”

Gue: “Ini museum selotip Bu.”

Suasana mendadak hening ....

Dosen Gue: “Diganti ya, konsep dan idenya cari yang lain.”

....

Usai penolakan itu, gue galau. Gue menyendiri di kamar dan gak mau ngobrol sama siapapun kecuali sama temen gue yang mau ngembaliin utang.
Tiba-tiba aja, gue dapet ide buat telepon temen lama gue, Rakha.

Gue: “Halo Kha, aku ada tugas kampus, disuruh ngedesain museum. Kamu mau bantuin aku ga?”

Rakha: “Desain bangunan?”

Gue: “Bukan, museum.”

Rakha: “Museum tuh bangunan bukan?”

Gue: “Iya sih kayaknya.”

Rakha: “NAH! KAMU DATENG KE ORANG YANG TEPAT! KEBETULAN AKU KULIAH JURUSAN ILMU KOMPUTER, JADI AKU JAGO NGEDESAIN BANGUNAN!”

Gue: “Yaudah, nanti aku dateng ke rumah kamu ya.”

Rakha: “Kapan?”

Gue: “Nanti, habis solat tahajud.”

Rakha: “Oke.”

****

Gue mulai corat-coret di kertas nasi. Apa mungkin atapnya segitiga? Atau malah lebih bagus kalau atapnya belah ketupat?

Tiba-tiba Si Rakha muncul sambil bawa setumpuk kertas HVS. Ternyata kertas-kertas itu isinya adalah berbagai rancangan museum buatan Si Rakha.

Rakha: “Desain pertama kamu ditolak ya?”

Gue: “Iya. Tolongin aku, Kha ....”

Rakha: “Tenang, tenang. Aku ahli soal desain. Aku pengalaman ngedesain banyak kaos, jaket, longdress, sweater, dan kemeja. Jadi kamu gak perlu khawatir ditolak lagi.”

Gue: “Oke ... jadi ... apa ide kamu?”

Rakha: “Gini, aku dapet ide yang bagus banget. Nih ... desain gue yang ini namanya ‘THE MUSEUM OF THE DARKNESS’”

Wih keren.

Gue: “Museum apa tuh?”

Rakha: “Sesuai namanya, ‘Darkness’, museum ini bakal menampilkan kegelapan.”
Hening.

Rakha: “Ya ... pokoknya gelapin aja ruangannya. Kan yang mau dipamerin kan kegelapannya. Gak perlu kita taruh apapun di dalemnya. Pokoknya gelap.”
Suasana semakin hening. Itu adalah konsep paling aneh yang pernah gue denger.

Rakha: “Oke, kalo kamu gak suka ... aku punya desain lain ... Nah, kalo yang ini namanya ‘THE MIRACLE OF THE WORLD`S ANIMALS MUSEUM’”

Wih, keren.

Judulnya aja udah lebih keren dari yang pertama. Dan gue liat juga desain bangunannya jauh lebih keren. Gue suka banget.

Singkat cerita, setelah negosiasi, akhirnya gue pilih desain kedua dari Si Rakha. Untuk kali ini, gue yakin, desain museum gue gak bakal ditolak lagi. Desain gue bakal dipuji-puji dan bakal dapet penghargaan dari dinas kebersihan.

Keesokan harinya gue berangkat ke kampus lagi buat nyetor desain kedua ke dosen. Gue bener-bener percaya diri dengan desain museum gue. Bu Dosen, bersiap-siaplah untuk takjub dengan desain baruku ....

Dosen Gue: “Oke Yoga, jadi apa perbaikan yang udah kamu kerjain?”

Gue: “Saya ganti konsep dan desain seluruh bangunan, Bu ....”

Dosen Gue: “Oke, silakan jelaskan pada saya ide baru apa yang kamu terapkan pada museum kamu ....”

Gue: “Oke Bu, perkenalkan, nama bangunan ini adalah ‘MIRACLE ANIMAL OF MUSEUM THE WORLD’”

Mudah-mudahan Bahasa Inggris gue bener.

Gue: “Jadi ini adalah museum yang sangat unik, Bu. Ini adalah museum ... binatang. Kalo biasanya binatang yang dipajang di museum itu Cuma tengkoraknya aja, kalo di museum saya, binatang yang dipajang itu masih hidup. Dan supaya nggak nyerang pengunjung, maka setiap binatang bakal diberi pagar.”

Dosen gue bengong. Sepertinya dia amat takjub dengan ide gue.

Gue: “Nah, supaya museumnya nggak bau kotoran binatang, maka saya buat inovasi, yaitu ... museumnya gak usah pake dinding. Dan karena ga ada dindingnya, maka atapnya juga gak ada. Dengan desain terbuka begini, maka sirkulasi udara akan sangat baik dan ga ada bau sama sekali.”

Dosen gue semakin bengong. Gue terharu ngeliat dosen gue takjub begitu.

Gue: “Dan supaya nyaman bagi binatangnya, maka lantainya terbuat dari tanah dan rumput. Selain itu akan ada perawat dan pemberi makan binatang serta petugas-petugas lainnya.”

Dosen gue masih bengong. Gue bahagia. Ini adalah pertama kalinya gue bikin dosen gue takjub sampe gak bisa berkata-kata.

Dosen Gue: “Saya gak bisa berkata-kata ....”

Oh my god! Akhirnya gue berhasil bikin desain bangunan yang bikin dosen gue takjub!

Dosen Gue: “Tolong ... diganti lagi konsepnya ya ... desainnya juga ....”

Hening.

....

Gue galau sendirian di kamar. Kenapa? Kenapa harus ditolak lagi? Kenapa harus gue yang ditolak? Gue bener-bener iri ngeliat temen-temen sekelas gue desainnya udah pada disetujuin, tinggal dipoles sedikit. Lha gue? Konsep bangunannya aja belum tau ....

Gue diem di kamar, mencari inspirasi sambil latihan loncat ninja. Gue termenung sejenak dan ... masih ga ada ide.

Jam dinding udah menunjukkan pukul 7 malem. Kata teletubbies, jam 8 malem itu waktunya tidur. Gimana ini? Gue Cuma punya waktu satu jam buat ngegambar?
Berhubung waktu udah mepet banget dan desain ketiga harus disetor besok, maka gue gambar asal asalan. Mau diterima kek, mau ditolak kek,terserah lah.

Keesokan harinya, gue dateng ke kampus dengan membawa desain yang ala kadarnya. Sederhana, bentuknya lebih mirip kek jamban umum ketimbang museum. Gue pun nyetorin gambar gue dengan sangat pasrah.

Dosen Gue: “Oke Yoga, perbaikan apa yang udah kamu kerjain?”

Gue: “Saya ubah konsep dan desain bangunannya, Bu”

Dosen Gue: “Oke, jelaskan pada saya konsep dan desain baru kamu.”

Gue: “Ini museum barang tua. Atapnya segitiga, dindingnya kotak. Pintunya satu, jendelanya dua.”

Dosen Gue: “LUAR BIASA! SAYA SUKA SEKALI DENGAN DESAIN KAMU! SEDERHANA, SIMPLE, DAN MINIMALIS! KAMU GAK PERLU PERBAIKAN LAGI, KAMU LANGSUNG SAYA BERI NILAI A!”

Hening.

Temen-temen gue langsung ngerumunin gambar gue,

Temen temen gue: “Ih iya ya desainnya keren banget. Minimalis ya, sesuai dengan tren bangunan jaman sekarang ... ini desain museum paling keren yang pernah aku liat ....”

Gue bengong.

Ini absurd. Gue udah bikin sesuatu yang keren banget dan semangat banget,ternyata ditolak. Tapi gue terus berupaya. Gue mah gitu orangnya, mau kayak gimana pun keadaannya, gue bakal terus mengupayakan yang terbaik. Penolakan? gue bawa bercanda aja.

Sekarang, gue ngerti. Bahwa sebenernya, kita gak perlu takut sama yang namanya penolakan. Penolakan itu wajar. Semua orang-orang hebat di dunia ini pernah ngerasain penolakan. Dan seharusnya penolakan itu dibawa bercanda aja supaya kita tetep rileks dan dapet ide buat bikin sesuatu yang baru lagi. Teruslah berupaya, karena orang yang berupaya adalah orang yang berhak untuk terbebas dari penolakan tiada akhir.

Moga-moga mulai sekarang gak ada lagi yang takut mengahadapi penolakan ya. :)


***
Cerpen ini gue ikutin lomba, tapi ga menang karena kata panitianya berat badan gue nggak memenuhi syarat.

You Might Also Like

4 komentar

Baca Tulisan Lainnya

7 Tips Mudik ala Gue, nomor 6 pasti ga kepikiran

sedih amat mas Mudik adalah pulang kampung. Iya, nenek nenek tukang main futsal juga tau. Tapi bukan itu yang mau gue angkat di tulisan...

Like me on Facebook